Saturday, 10th October 2026
by Admin

Pernah merasa lelah meski tidak banyak melakukan aktivitas fisik? Pikiran terasa penuh, sulit berkonsentrasi, mudah tersinggung, atau ingin menyendiri tanpa tahu alasannya? Di tengah rutinitas yang padat dan tuntutan hidup yang terus berjalan, kondisi seperti ini bisa menjadi pengingat bahwa kesehatan bukan hanya tentang tubuh yang bugar, tetapi juga pikiran dan perasaan yang perlu dijaga.
Setiap tanggal 10 Oktober, dunia memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia (World Mental Health Day) untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya kesehatan mental dan mendorong dukungan yang lebih baik bagi setiap orang. Tahun ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengangkat tema “ Lived experiences heard: real voices, real change ”, yang menekankan pentingnya mendengarkan pengalaman orang yang hidup dengan masalah kesehatan mental dan melibatkan mereka dalam keputusan serta layanan yang memengaruhi kehidupannya.
Belakangan ini, istilah mental health, burnout, overthinking , hingga healing semakin sering terdengar, terutama di media sosial. Meningkatnya percakapan ini membuka ruang bagi masyarakat untuk lebih berani membicarakan perasaan dan mencari dukungan. Namun, ada hal penting yang perlu diingat: memahami kesehatan mental tidak cukup hanya dengan mengenali istilahnya.
Di era digital, kita terbiasa melihat potongan kehidupan orang lain yang tampak menyenangkan, pencapaian karier, liburan, hingga gaya hidup ideal. Tanpa disadari, kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain dapat menimbulkan tekanan, rasa tertinggal, atau perasaan tidak cukup baik. Di sisi lain, perundungan siber, komentar negatif, dan kekerasan di ruang digital juga dapat berdampak pada kesejahteraan psikologis.
WHO Indonesia menyoroti dampak kekerasan berbasis gender yang difasilitasi teknologi, seperti cyberstalking, doxxing , dan pelecehan daring, terhadap kesehatan mental perempuan dan anak perempuan. Ini menunjukkan bahwa ruang digital bukan hanya tempat untuk berinteraksi, tetapi juga lingkungan yang perlu dijaga agar tetap aman.
Tantangan ini juga penting diperhatikan pada anak dan remaja. Mereka sedang berada dalam tahap perkembangan emosi, pembentukan identitas, serta pencarian penerimaan dari lingkungan. Karena itu, dukungan keluarga, sekolah, dan lingkungan pertemanan menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan mental sejak dini.
Sama seperti kesehatan fisik, kesehatan mental perlu mendapat perhatian. Merasa sedih, cemas, kecewa, atau lelah sesekali merupakan bagian dari pengalaman manusia. Kita tidak harus selalu bahagia atau terlihat kuat setiap saat.
Namun, jika perubahan suasana hati, gangguan tidur, kehilangan minat, kesulitan berkonsentrasi, atau rasa cemas berlangsung terus-menerus hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional.
Menjaga kesehatan mental bisa dimulai dari langkah sederhana berikut:
1. Beri waktu untuk beristirahat.
Tubuh dan pikiran membutuhkan jeda. Atur waktu tidur yang cukup dan seimbangkan aktivitas dengan waktu pemulihan.
2. Batasi waktu di media sosial.
Kenali konten yang membuat kita merasa tertekan. Tidak ada salahnya mengambil jeda dari layar dan lebih banyak menikmati interaksi secara langsung.
3. Tetap aktif bergerak.
Berjalan kaki, berolahraga ringan, menari, atau melakukan aktivitas yang disukai dapat menjadi bagian dari rutinitas sehat dan membantu menjaga suasana hati.
4. Ceritakan apa yang dirasakan.
Berbagi cerita dengan orang yang dipercaya dapat membantu kita merasa didengar dan tidak menghadapi masalah sendirian. Mendengarkan tanpa menghakimi juga merupakan bentuk dukungan yang berarti.
5. Jangan ragu mencari bantuan profesional.
Psikolog, psikiater, dan tenaga kesehatan terlatih dapat membantu ketika masalah terasa sulit dihadapi sendiri. Meminta bantuan bukan tanda kelemahan, melainkan langkah untuk merawat diri.
Menjaga kesehatan mental tidak berarti kita harus menghindari semua stres atau selalu berpikir positif. Yang lebih penting adalah mengenali emosi, memahami batas kemampuan diri, memiliki dukungan sosial, serta mengetahui kapan harus meminta pertolongan.
Pola hidup sehat dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesejahteraan secara menyeluruh. Mengonsumsi makanan bergizi seimbang, melakukan aktivitas fisik secara teratur, tidur cukup, menjaga hubungan sosial, dan meluangkan waktu untuk kegiatan yang menyenangkan merupakan kebiasaan yang mendukung kesehatan tubuh sekaligus kesejahteraan mental.
Meski begitu, masalah kesehatan mental tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan mengubah gaya hidup. Kondisi yang menetap atau mengganggu kehidupan sehari-hari tetap memerlukan perhatian dan, bila dibutuhkan, penanganan profesional.
Dalam semangat Update Imun, menjaga kesehatan merupakan upaya menyeluruh: menerapkan pola hidup bersih dan sehat serta melengkapi perlindungan dengan imunisasi sesuai kebutuhan. Kesehatan fisik dan mental sama-sama layak mendapat perhatian, meskipun keduanya membutuhkan bentuk dukungan dan penanganan yang berbeda.
Peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia 2026 mengingatkan kita bahwa setiap pengalaman layak didengar. Seseorang yang terlihat baik-baik saja belum tentu tidak sedang menghadapi kesulitan. Sebaliknya, orang yang sedang mengalami masalah kesehatan mental tidak seharusnya diberi stigma atau dianggap kurang kuat.
Mari mulai dari hal sederhana: tanyakan kabar dengan tulus, dengarkan tanpa terburu-buru memberi nasihat, hindari meremehkan perasaan orang lain, dan bantu mereka menemukan dukungan yang tepat.
Sebab, hidup sehat bukan hanya tentang seberapa kuat tubuh kita menjalani hari, tetapi juga tentang bagaimana kita memberi ruang bagi diri sendiri dan orang lain untuk merasa aman, didengar, dan mendapatkan pertolongan.
Di Hari Kesehatan Mental Sedunia ini, yuk, lebih peduli pada diri sendiri dan sesama. Karena kesehatan mental bukan sekadar tren untuk dibicarakan, melainkan bagian penting dari kesehatan yang perlu dijaga bersama.