Friday, 9th January 2026
by Admin

Liburan sering diasosiasikan dengan kebahagiaan: jalan-jalan, quality time bersama orang terdekat, hingga terbebas sementara dari rutinitas yang melelahkan. Namun, menariknya, banyak orang justru merasa sedih, kosong, atau kehilangan semangat setelah kembali dari liburan. Fenomena ini dikenal sebagai Post Holiday Blues, kondisi emosional yang membuat seseorang merasa down setelah periode liburan berakhir.
Meski tidak tergolong gangguan mental yang serius, efeknya tetap dapat mengganggu produktivitas, suasana hati, hingga motivasi harian. Lantas, kenapa kondisi ini bisa terjadi? Apa gejalanya? Dan bagaimana cara mengatasinya? Artikel ini akan membahas secara lengkap.
Post Holiday Blues adalah kondisi emosional yang muncul setelah seseorang selesai menjalani liburan atau momen menyenangkan, lalu kembali pada rutinitas sehari-hari. Kondisi ini biasanya ditandai dengan:
Post Holiday Blues bukan depresi klinis, namun bisa menjadi pemicu stres ringan dan burnout jika diabaikan.
Ada beberapa faktor yang dapat memicu post-holiday blues, di antaranya:
Saat liburan, otak mendapat stimulus menyenangkan: pengalaman baru, makanan enak, aktivitas santai, hingga interaksi sosial. Pada masa itu, otak memproduksi hormon-hormon bahagia seperti:
Saat liburan berakhir, hormon tersebut menurun drastis. Kontras antara euforia vs rutinitas membuat otak kaget, sehingga muncul rasa sedih dan kehilangan mood.
Kadang kita menganggap liburan sebagai “obat mujarab” untuk semua rasa stres. Ketika liburan selesai dan masalah masih ada, rasa kecewa atau kosong bisa muncul.
Liburan memberi kebebasan terhadap waktu tidur, jadwal makan, hingga aktivitas. Saat kembali ke rutinitas yang penuh aturan, tubuh perlu bekerja ekstra untuk beradaptasi kembali.
Rasa rindu terhadap momen liburan, cuaca, tempat, atau orang-orang yang ditemui bisa menimbulkan kesedihan.
Email menumpuk, tugas yang tertunda, hingga pekerjaan rumah bisa membuat seseorang cepat merasa kewalahan.
Gejala setiap orang bisa berbeda, namun umumnya meliputi:
Jika Imuners mengalami gejala tersebut selama ≤ 2 minggu, itu masih tergolong wajar. Namun jika berlangsung lebih lama atau semakin berat, ada baiknya mencari dukungan profesional.
Selain mengobati, kondisi ini juga bisa dicegah. Berikut beberapa cara pencegahan yang bisa diterapkan:
Jangan langsung bekerja di hari kamu sampai. Sisihkan satu hari untuk:
Hal ini membantu tubuh dan pikiran kembali ke ritme normal dengan lebih halus.
Pulang ke rumah berantakan bisa memicu stres. Dengan ruangan yang rapi, adaptasi akan terasa lebih nyaman.
Sederhana tapi penting: kembali dari liburan lalu harus belanja dan masak bisa bikin kewalahan.
Misalnya:
Ini memberi otak sesuatu untuk dinantikan.
Jika rasa sedih terlanjur muncul, kamu bisa melakukan langkah berikut:
Menyadari emosi adalah langkah awal penyembuhan. Kamu bisa berkata:
Alih-alih menekan emosi, belajar memahami dan menamainya dapat mengurangi beban mental.
Saat sedih, cobalah ingat apa yang kamu rindukan dari rumah, seperti:
Ini membantu pikiran melihat sisi baik dari rutinitas.
Refleksi membantu kamu membawa “hal baik” dari liburan ke kehidupan sehari-hari.
Tanyakan pada diri sendiri:
Misalnya, jika kamu relax karena lebih sering berada di luar ruangan, kamu bisa mulai sering berjalan sore atau duduk di taman.
Hari pertama bekerja bukan berarti harus menyelesaikan semua tugas sekaligus. Kamu bisa:
Dengan begitu, energi dan fokus bisa pulih perlahan.
Imuners gak harus menunggu liburan untuk istirahat. Coba isi hari-hari awal dengan aktivitas yang kamu suka seperti:
Karena hal-hal kecil bisa meningkatkan mood cukup signifikan.
Rasa excited terhadap trip berikutnya bisa menaikkan mood dan menurunkan stres. Pertanyaan seperti:
bisa membantu pikiran tetap positif.
Jika post-holiday blues berlangsung lama dan mengganggu fungsi harian, penting untuk mencari dukungan, entah dari keluarga, teman, atau psikolog. Kadang rasa sedih usai liburan adalah pintu masuk untuk menyadari stres atau burnout yang lebih dalam.
Post Holiday Blues adalah respons normal dari otak yang terbiasa dengan suasana menyenangkan, lalu kembali pada kenyataan penuh tuntutan. Perasaan sedih, malas, atau kehilangan semangat setelah liburan adalah bagian dari proses adaptasi yang akan menghilang seiring waktu.
Dengan memahami penyebab, gejala, dan cara mengatasinya, kamu bisa melalui masa pasca-liburan dengan lebih sehat — baik secara fisik maupun emosional.
Jadi, kalau kamu merasa sedih setelah liburan, ingat bahwa itu normal, umum terjadi, dan bisa diatasi.
Selamat menyambut rutinitas baru Imuners!